Kisah Mush'ab bin Umair Membuat Rasulullah Meneteskan Air Mata
Kisah Mushʼab bin Umair.
![]() |
| Mush'ab bin Umair |
Dikota Makkah, ada seorang pemuda Quraisy yang wajahnya tampan, tutur katanya lembut, pakaiannya indah, dan setiap langkahnya meninggalkan jejak harum.
Dialah Mush'ab bin 'Umair. la tumbuh dalam limpahan kasih ibunya, Khunas binti Malik, wanita bangsawan yg kaya raya.
Tidak ada pemuda Makkah yang hidupnya. lebih dimanjakan. Namun di balik segala kemewahan itu, Allah memilih hatinya untuk menerima cahaya Islam.
Suatu hari, Mush'ab mendengar Rasulullah berdakwah di rumah Arqam bin Abi Arqam. la datang dengan diam-diam.
Ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur'an, hatinya luluh, ia pun masuk Islam. Sejak itu, kehidupan Mush'ab berubah. Ibunya marah besar, mengurungnya, memutus seluruh kemewahan, bahkan mengancam. "Tinggalkan agamamu atau engkau tidak akan mendapatkan apa pun dariku." Mush'ab menjawab tegas, "Demi Allah, seandainya engkau memiliki seratus nyawa lalu nyawa itu dicabut satu per satu, aku tidak meninggalkan agama Muhammad.
Pemuda yang dulu harum kini rambutnya kusut. Pemuda yang dulu berpakaian indah kini mengenakan kain kasar. Namun cahaya iman di wajahnya lebih indah dari semua perhiasan dunia. Rasulullah menaruh kepercayaan besar padanya. Ketika sekelompok penduduk Yatsrib memeluk Islam, beliau mengutus Mush'ab sebagai duta pertama Islam. Tinggal di rumah As'ad bin Zurarah, Mush'ab mengajarkan Al-Qur'an dengan kelembutan hati.
Satu demi satu tokoh Anshar masuk Islam-Sa'ad bin Mu'adz, Usaid bin Hudhair, dan banyak lainnya hingga hampir tidak ada rumah di Madinah kecuali ada yang memeluk Islam.
Karena jasanya, ia digelari al-Muqri' (guru Al-Qur'an) dan duta pertama Islam. Mush'ab ikut perang Badar bersama kaum Muslimin. Di sana ia bertemu adiknya sendiri, Abu Aziz bin Umair, yang tertawan. Mush'ab berkata kepada sahabat Anshar yang menawan adiknya, "Ikatlah dengan kuat, karena ibunya wanita kaya, mungkin ia akan menebusnya." Abu 'Aziz terkejut, "Wahai Mush'ab, apakah ini caramu memperlakukan saudaramu?"
Mush'ab menjawab, "Dia (sahabatku ini) adalah saudaraku, bukan engkau." Kalimat yang dingin tapi penuh iman, persaudaraan seagama lebih kuat dari pada ikatan darah.
Puncak pengorbanannya datang pada perang Uhud. Rasulullah menyerahkan panji kaum Muslimin kepadanya. Mush'ab maju ke depan, gagah membawa panji tinggi-tinggi, agar pasukan Muslim tidak goyah. Musuh mengepungnya, menebas tangan kanannya.
Mush'ab segera memegang panji dengan tangan kiri. Tangan kirinya ditebas pula, maka ia merangkul panji dengan kedua lengannya, sambil berseru membaca ayat:
"Muhammad hanyalah seorang rasul. Sungguh, telah berlalu sebelumnya rasul-rasul yang lain." (QS. Ali 'Imran: 144).
Tubuhnya penuh luka, lebih dari tujuh puluh tusukan dan tebasan, hingga akhirnya ia roboh syahid, panji Islam tetap tegak.
Sesudah perang, Rasulullah berjalan di antara jenazah syuhada. Ketika melihat Mush'ab, beliau berhenti, meneteskan air mata. Beliau teringat, pemuda termewah di Kota Makkah kini terbaring dengan tubuh penuh luka.
Bahkan untuk kafannya, para sahabat hanya menemukan selembar kain burdah. Jika kain itu ditutupkan ke kepalanya, kakinya terbuka; jika ditutupkan ke kakinya, kepalanya terbuka.
Rasulullah bersabda:
"Tutuplah kepalanya dengan kain itu, dan letakkan idzkhir (rumput harum) di kakinya." (HR. al-Bukhari no. 4042).
Dengan suara bergetar beliau berkata.
"Dulu aku melihat Mush'ab di Makkah, tidak ada pemuda yang lebih lembut dan lebih mewah hidupnya darinya. Namun sekarang, ia terbujur dengan rambut kusut dan hanya dikafani selembar kain." (al-Hakim, al-Mustadrak, 3/201). Rasulullah menangis lama di sisi jasadnya.
Demikianlah Mush'ab bin 'Umair, Kisahnya menjadi pelajaran abadi: kejayaan sejati bukan pada harta atau kemewahan, tetapi pada keimanan dan pengorbanan di jalan Allah.
Rujukan.
Ibnu Sa'ad, at-Thabaqat al-Kubra, juz 3
Ibnu Katsir, al-Bidāyah wa an-Nihāyah, juz 3-4
Ibn Hajar, al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah, juz 6
al-Bukhari (no. 4042)
al-Hakim, al-Mustadrak, 3/201.
