Kisah Rasulullah Tidak Ada Yang Bisa Menggantikan Sayyidah Khadijah
Tidak Ada Yang Bisa Menggantikan Sayyidah Khadijah Dihatiku, Ungkap Rasulullah Yang Membuat Sayyidah Aisah Terdiam Seketika.
Malam itu begitu sunyi. Angin berhembus pelan, seolah ikut berbisik dalam keheningan. Rasulullah duduk dalam diam, matanya menerawang jauh ke langit, tapi hatinya tidak berada di sana.
la tengah mengembara ke masa lalu, kepada kenangan yang tak pernah pudar, ialah bayangan Sayyidah Khadijah. Wanita yang pertama kali percaya saat semua orang mendustakan.
Wanita yang pertama kali berdiri di sisinya saat dunia berpaling. Wanita yang mencintai tanpa syarat, yang menyerahkan segalanya demi Islam. Di sampingnya, Aisyah radhiyallahu 'anha memperhatikan suaminya yang larut dalam pikirannya. la tahu, Khadijah bukan sekadar kenangan bagi Rasulullah, ia adalah bagian dari jiwanya.
Namun, hati manusia tetaplah hati. Meskil Sayyidah Aisyah adalah istri yang cerdas, lembut, dan sangat dicintai, ada satu hal yang sulit ia abaikan: rasa cemburu pada wanita yang bahkan belum pernah ia temui.Dengan nada yang mengandung sedikit kekesalan, Aisyah berkata,"Ya Rasulullah, bukankah Allah telah menggantikan Khadijah dengan wanita yang lebih baik darinya?"
Sekejap, keheningan menggantung di udara. Rasulullah terdiam. Mata beliau yang penuh kelembutan kini berkaca-kaca. Nafasnya sedikit tertahan. Seolah ada gelombang perasaan yang membuncah dalam hatinya. Kemudian, dengan suara yang bergetar, beliau berkata,"Demi Allah, tidak ada yang bisa menggantikan Khadijah!"Kata-kata itu terucap dengan begitu dalam, begitu penuh perasaan, hingga Aisyah pun tersentak. Belum pernah ia melihat Rasulullah berbicara dengan nada setegas dan seharu itu.
Lalu, dengan mata yang sedikit basah, Rasulullah melanjutkan,"Dia beriman kepadaku saat semua orang mendustakanku. Dia membenarkanku saat semua orang mengingkariku. Dia menyerahkan hartanya untuk perjuanganku saat semua orang menolakku. Dan darinya, aku mendapatkan anak-anak."
Suasana menjadi begitu sunyi. Bahkan angin pun seakan berhenti bertiup. Sayyidah Aisyah tak mampu berkata-kata. Dadanya sesak. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami. Bukan sekadar mendengar, tapi merasakan betapa dalamnya cinta Rasulullah kepada Sayyidah Khadijah. Bukan berarti Rasulullah tidak mencintainya.
Tidak. Tapi Sayyidah Khadijah adalah kisah yang berbeda. la adalah bintang pertama di malam yang gelap, pelita di saat semua terasa hampa.
Sejak malam itu, meskipun rasa cemburu masih ada, Sayyidah Aisyah mulai lebih memahami. la mulai mengerti bahwa ada cinta yang tak bisa diukur oleh waktu. Dan memang benar, Sayyidah Khadijah bukan sekadar istri bagi Rasulullah, la adalah bagian dari perjalanan dakwah, bagian dari pengorbanan, hatinya yang tak pernah tergantikan.
Bahkan dalam riwayat lain, dikisahkan bahwa jika ada suara yang mirip dengan suara Sayyidah Khadijah, Rasulullah akan tersentak dan mengenangnya. Setiap kali beliau menyembelih kambing, beliau akan mengirim dagingnya kepada sahabat-sahabat Sayyidah Khadijah, sebagai bentuk cinta dan penghormatan.
Cinta Rasulullah kepada Sayyidah Khadijah bukan sekadar kisah romantis. la adalah cinta yang hidup di dalam hati, menembus batas waktu dan ruang, hingga maut pun tak mampu menghapusnya. Cinta yang tak tergantikan.
