Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Saidah Khadijah Demi Menenangkan Kekasihnya, Saidah Khadijah Melakukan Ujian kepada Malaikat Jibril Untuk Membuktikan Kebenaran Wahyu

Kisah Saidah Khadijah Demi Menenangkan Kekasihnya, Saidah Khadijah Melakukan Ujian kepada Malaikat Jibril Untuk Membuktikan Kebenaran Wahyu.
Foto by: google 
Didalam GUA Hira, segalanya terasa begitu mencengkram. Cahaya memenuhi GUA, dan di hadapan Rasulullah berdiri sosok yang belum pernah beliau temui sebelumnya. Dengan suara yang menggema, sosok itu berkata:

"Iqra'! Bacalah!"

Tubuh Rasulullah bergetar. Dengan penuh kebingungan, beliau menjawab," Aku tidak bisa membaca." Sosok itu mendekapnya dengan erat, lalu mengulanginya lagi, hingga akhirnya firman Allah mengalir dari langit untuk pertama kalinya.

Dengan dada yang sesak dan pikiran yang kalut. Rasulullah berlari menuruni gunung, langkanya tergesa-gesa, napasnya tersengal, rasa takut menyelimuti nya. Apa yang baru saja terjadi.??

Setibanya dirumah, beliau mencari satu-satunya tempat yang selalu menjadi perlindungannya pelukan Khadijah.

"Selimuti aku! Selimuti aku!" Suara beliau bergetar.

Tanpa bertanya, Khadijah segera mengambil kain tebal dan menyelimutinya suaminya. Tangannya yang lembut membelai kepala Rasullullah, menenangkannya seperti ibu yang menenangkan anaknya.

"Apa yang terjadi wahai kekasihku Rasulullah?"
Tanyanya dengen penuh kelembutan.

Dengan suara yang masih terguncang, Rasulullah menceritakan segalanya tentang cahaya yang menyilaukan itu, sosok yang mendekapnya, perintah untuk membaca, dan perasaan takut yang menyergapnya.

Khadijah mendengarkan dengan penuh perhatian, tanpa sedikitpun ragu di hatinya. Begitu Rasulullah selesai bercerita, ia menggenggam tangan suaminya dengan erat, lalu berkata.,

"Demi Allah. Dia tidak akan pernah menghinakanmu! Engkau adalah orang yang selalu menjaga tali silaturrahmi, membantu yang miskin, memuliakan tamu, dan menolong orang orang yang tertindas. Allah tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk menimpamu.

Kata kata itu mengalir seperti air yang menyejukkan hati Rasulullah.

Namun, Khadijah tidak hanya ingin menenangkan hati suaminya dengan kata-kata. Ia ingin menyakinkannya dengan kepastian."Wahai suamiku, jika engkau melihat soso itu lagi, beritahu aku."

Beberapa waktu kemudian, ketika Malaikat Jibril kembali datang, Rasulullah memberitahu Khadijah. Dengan ketenangan yang luar biasa, Saidah Khadijah melakukan sesuatu yang tak terduga, beliau melepaskan kerudungnya dan lalu bertanya,"Apakah dia masih ada disini?"

"Tidak, dia telah pergi," jawab Rasulullah.

Saidah Khadijah lalu tersenyum, matanya berbinar penuh keyakinan. Dengan lembut ia berkata."Wahai suamiku bergembiralah. Ia adalah malaikat, bukan setan. Karena jika itu setan, ia tidak akan risih melihat auratku."

Rasulullah menghela nafas lega.
Untuk kesekian kalinya istrinya menjadi penenangnya.

Namun, Saidah Khadijah belum selesai.
Ia ingin mendapatkan kepastian yang lebih kuat. Maka, ia menggandeng tangan suaminya dan membawanya menemui Waraqah Bin Naufal, seorang alim yang memahami kitab-kitab suci.

Setelah mendengarkan kisah itu, Waraqah menatap Rasulullah dengan mata berkaca-kaca.

"Demi Allah! Itu adalah Namus ( Jibril ) yang juga datang kepada Nabi Musa. Andai saja aku masih muda dan masih hidup ketika kaum mu mengusir mu nanti!"

"Apakah mereka akan mengusirku..?"
Rasulullah bertanya terkejut.

"Iya jawab Waraqah," karena setiap kali ada seseorang yang membawa kebenaran dari Allah, ia pasti akan dimusuhi.

Sumber: Sirah Ibnu Katsir